Langsung ke konten utama

Kisah Panjang Bersama Alergi (1)

Akrab dengan Antihistamin dan Steroid Sejak Remaja

Kalau diingat-ingat kembali, perjalanan panjang saya berteman dengan alergi sebenarnya sudah dimulai sejak masa sekolah dasar (SD). Setidaknya dalam waktu enam bulan sekali, tubuh saya punya "jadwal rutin" yang menyiksa: muncul bentol-bentol merah yang gatal luar biasa di sekujur tubuh, bahkan sampai ke wajah. Orang-orang di sekitar saya menyebutnya biduran.

Setiap kali gejala ini kambuh, obat andalan yang selalu diberikan adalah CTM (antihistamin) dan Calc (kalsium). Lucunya, karena saat itu saya masih anak-anak dan belum paham apa-apa, kombinasi obat itu sempat membuat saya mengambil kesimpulan sendiri. Saya sempat berpikir, "Oh, mungkin alergi saya ini timbul karena tubuh saya kurang kalsium?" Sebuah kesalahpahaman polos yang baru saya sadari keliru bertahun-tahun setelahnya.

Memasuki usia remaja, ternyata ceritanya tidak menjadi lebih mudah. Alergi ini tidak hilang, melainkan mulai bertransformasi dan memaksa saya untuk kenal lebih jauh dengan jenis obat lain yang lebih kuat: steroid.

Memasuki usia SMP dan SMA, ketidaknyamanan ini justru semakin bertambah parah. Alergi tidak lagi sekadar datang enam bulan sekali dalam bentuk biduran, tapi mulai menetap di area wajah. Bibir saya selalu kering pecah-pecah dan terasa gatal yang amat mengganggu.

Bahkan saat SMP, wajah saya sempat mengalami peradangan di beberapa tempat. Bentuknya bukan jerawat, melainkan bercak kemerahan yang bersisik. Orang awam kalau melihatnya mungkin akan mengira itu kurap. Jujur, ingatan itu sempat membuat saya minder; dibilang kurap rasanya seperti dicap sebagai anak yang tidak bisa menjaga kebersihan, padahal ini adalah reaksi alergi tubuh saya sendiri.

Karena kondisi wajah yang meradang dan tidak kunjung membaik itulah, saya akhirnya dibawa ke dokter spesialis kulit. Di usia remaja inilah, untuk pertama kalinya, saya resmi berkenalan dan diberi resep obat serta salep steroid.

Saat itu, salep steroid terasa seperti "dewa penolong". Dioleskan sedikit saja, kemerahan dan gatal di wajah langsung hilang dalam hitungan hari. Namun, saya belum tahu bahwa efek instan ini adalah awal dari hubungan panjang yang menjebak antara kulit saya dan steroid hingga bertahun-tahun ke depan...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Probiotik dan Menjaga Kesehatan Pencernaan Demi Kulit Bebas Eksim

Saya pernah menyimak konten dari salah seorang dokter kulit di Instagram. Beliau menjelaskan bahwa kesehatan pencernaan sangat berhubungan erat dengan tingkat sensitivitas tubuh terhadap alergi . Masalah atau ketidakseimbangan pada mikrobioma usus ternyata menjadi salah satu pemicu utama munculnya reaksi alergi dan eksim di kulit. Saat itu, beliau menyarankan penderita alergi untuk rutin mengonsumsi suplemen probiotik setiap hari. Sebagai penderita eksim yang ingin sembuh, tentu saja saya langsung mencobanya Produk pertama yang saya beli sesuai rekomendasi dokter tersebut adalah Interlac (mengandung Lactobacillus reuteri). Saya mengonsumsinya secara rutin setiap hari. Memang hasilnya tidak serta-merta terlihat dalam semalam, tetapi perlahan tapi pasti, saya menyadari satu hal: eksim dan gatal-gatal saya jadi semakin jarang timbul! Melihat perubahan positif ini, saya mantap meneruskan kebiasaan mengonsumsi probiotik. Saat ada sumber lain yang merekomendasikan jenis probiotik lain (...

Petroleum Jelly, membantu menjaga kelembapan, dan efek sampingnya

Saat anak pertama saya masih bayi dulu, muncul ruam merah yang cukup besar di pipinya. Orang-orang tua zaman dulu biasa menyebutnya sebagai "kurap susu" . Keluarga di rumah waktu itu menyarankan saya untuk mengolesinya dengan 'pale bibir' . Jujur, saat itu saya hanya tahu namanya ya 'pale bibir', yang biasa dibeli secara eceran di lapak penjual sirih di pasar tradisional. Tanpa diduga, ternyata sangat manjur, setelah rutin dioleskan sekitar seminggu, ruam di pipi anak saya perlahan membaik dan akhirnya sembuh total. Anak kedua sampai anak keempat saya tidak pernah mengalami ruam serupa. Karenanya, baru belakangan ini—setelah saya bertahun-tahun bergulat dengan masalah kulit sensitif dan eksim—saya tergerak untuk mencari tahu: sebenarnya apa sih 'pale bibir' yang dijual di penjual sirih itu? Setelah saya telusuri, ternyata 'pale bibir' tidak lain adalah petroleum jelly curah! Penjual sirih menyediakannya karena pelanggan mereka yang mengunyah ...