Langsung ke konten utama

Kisah Panjang Bersama Alergi (2)

Saat Eksim Menyerang dan Ujian Percaya Diri di Usia Dewasa

Memasuki usia kuliah dan awal kedewasaan, siklus alergi saya ternyata belum juga selesai. Eksim di area wajah sudah jarang timbul, namun eksim di bibir masih setia datang dan pergi alias hilang timbul. Polanya selalu sama dan monoton: kulit meradang → pergi ke dokter kulit → diberi obat dan salep steroid → sembuh sementara → lalu beberapa bulan kemudian kambuh lagi. Saat itu, saya masih menganggap siklus ini sebagai hal yang normal.

Namun, babak baru yang lebih menantang dimulai ketika saya memasuki kehidupan berumah tangga. Sebagai orang dewasa yang harus mengurus rumah, aktivitas saya tentu tidak lepas dari pekerjaan domestik. Di sinilah pemicu baru itu muncul. Karena kulit saya dasarnya memang sensitif, paparan sabun cuci piring yang keras setiap hari menjadi musuh baru.

Eksim yang awalnya hanya di area bibir, kini mulai menyerang punggung telapak tangan. Kulit tangan menjadi sangat kering, pecah-pecah, perih, dan gatal luar biasa.

Jika kondisi eksim di tangan ini sedang parah-parahnya, rasanya sedih sekali. Bukan hanya karena perih dan tidak nyaman untuk beraktivitas sehari-hari seperti memasak atau mencuci, tetapi juga karena beban mentalnya. Punggung tangan adalah area yang sangat mudah terlihat oleh orang lain. Sering kali saya harus menahan rasa minder ketika orang lain memperhatikan tangan saya dan mulai bertanya, "Tangannya kenapa?" atau "Kok bisa sampai begitu?"

Di titik gatal, perih, dan lelah mental inilah, saya akhirnya berusaha mencari lebih banyak informasi mengenai eksim dan alergi.

Dari sekian tips, saran ahli, dan sharing dari mereka yang memiliki pengalaman serupa, ada beberapa poin utama yang saya simpulkan:

  1. Berdamai dengan alergi (eksim): Ini lebih ke arah penerimaan diri agar tidak memperparah penyakit karena stres.

  2. Memperbaiki pola makan.

  3. Menjaga kelembaban kulit.

Berbekal 3 poin ini, pelan-pelan saya mulai merasakan perubahan dan perbaikan yang berarti pada kulit saya. Saya akan bagikan cerita lengkap dan detail perawatannya di tulisan selanjutnya, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Panjang Bersama Alergi (1)

Akrab dengan Antihistamin dan Steroid Sejak Remaja Kalau diingat-ingat kembali, perjalanan panjang saya berteman dengan alergi sebenarnya sudah dimulai sejak masa sekolah dasar (SD). Setidaknya dalam waktu enam bulan sekali, tubuh saya punya "jadwal rutin" yang menyiksa: muncul bentol-bentol merah yang gatal luar biasa di sekujur tubuh, bahkan sampai ke wajah. Orang-orang di sekitar saya menyebutnya biduran. Setiap kali gejala ini kambuh, obat andalan yang selalu diberikan adalah CTM (antihistamin) dan Calc (kalsium). Lucunya, karena saat itu saya masih anak-anak dan belum paham apa-apa, kombinasi obat itu sempat membuat saya mengambil kesimpulan sendiri. Saya sempat berpikir, "Oh, mungkin alergi saya ini timbul karena tubuh saya kurang kalsium?" Sebuah kesalahpahaman polos yang baru saya sadari keliru bertahun-tahun setelahnya. Memasuki usia remaja, ternyata ceritanya tidak menjadi lebih mudah. Alergi ini tidak hilang, melainkan mulai bertransformasi dan memaksa s...