Langsung ke konten utama

Probiotik dan Menjaga Kesehatan Pencernaan Demi Kulit Bebas Eksim

Saya pernah menyimak konten dari salah seorang dokter kulit di Instagram. Beliau menjelaskan bahwa kesehatan pencernaan sangat berhubungan erat dengan tingkat sensitivitas tubuh terhadap alergi. Masalah atau ketidakseimbangan pada mikrobioma usus ternyata menjadi salah satu pemicu utama munculnya reaksi alergi dan eksim di kulit.

Saat itu, beliau menyarankan penderita alergi untuk rutin mengonsumsi suplemen probiotik setiap hari. Sebagai penderita eksim yang ingin sembuh, tentu saja saya langsung mencobanya

Produk pertama yang saya beli sesuai rekomendasi dokter tersebut adalah Interlac (mengandung Lactobacillus reuteri). Saya mengonsumsinya secara rutin setiap hari. Memang hasilnya tidak serta-merta terlihat dalam semalam, tetapi perlahan tapi pasti, saya menyadari satu hal: eksim dan gatal-gatal saya jadi semakin jarang timbul!

Melihat perubahan positif ini, saya mantap meneruskan kebiasaan mengonsumsi probiotik. Saat ada sumber lain yang merekomendasikan jenis probiotik lain (misalnya yang mengandung Lactobacillus acidophilus), saya juga mencobanya.

Menurut saya, apa pun jenis produk probiotiknya -selama terbukti memberikan bakteri baik untuk usus- sangat worth it untuk dikonsumsi. Tidak selalu harus berupa pil atau suplemen mahal, kita juga bisa mendapatkannya dari makanan dan minuman fermentasi, seperti Yoghurt, Kefir, dan minuman probiotik lain seperti Yakult. Pastikan untuk memilih produk olahan yang rendah gula (low sugar) atau unsweetened. Kandungan gula berlebih justru bisa memicu peradangan (inflamasi) yang malah memperburuk eksim.

Melihat gejala eksim yang kini semakin jarang kambuh, saya semakin yakin untuk terus menjaga kebiasaan baik ini. Kesehatan usus yang terjaga ternyata benar-benar tercermin pada kesehatan kulit kita.

Bagi teman-teman yang sedang berjuang dengan keluhan eksim atau alergi yang tak kunjung sembuh, tidak ada salahnya mencoba memperbaiki pencernaan lewat probiotik. Semoga kebiasaan ini juga bisa membawa perbaikan untuk kulit kalian, ya!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Panjang Bersama Alergi (1)

Akrab dengan Antihistamin dan Steroid Sejak Remaja Kalau diingat-ingat kembali, perjalanan panjang saya berteman dengan alergi sebenarnya sudah dimulai sejak masa sekolah dasar (SD). Setidaknya dalam waktu enam bulan sekali, tubuh saya punya "jadwal rutin" yang menyiksa: muncul bentol-bentol merah yang gatal luar biasa di sekujur tubuh, bahkan sampai ke wajah. Orang-orang di sekitar saya menyebutnya biduran. Setiap kali gejala ini kambuh, obat andalan yang selalu diberikan adalah CTM (antihistamin) dan Calc (kalsium). Lucunya, karena saat itu saya masih anak-anak dan belum paham apa-apa, kombinasi obat itu sempat membuat saya mengambil kesimpulan sendiri. Saya sempat berpikir, "Oh, mungkin alergi saya ini timbul karena tubuh saya kurang kalsium?" Sebuah kesalahpahaman polos yang baru saya sadari keliru bertahun-tahun setelahnya. Memasuki usia remaja, ternyata ceritanya tidak menjadi lebih mudah. Alergi ini tidak hilang, melainkan mulai bertransformasi dan memaksa s...

Kisah Panjang Bersama Alergi (2)

Saat Eksim Menyerang dan Ujian Percaya Diri di Usia Dewasa Memasuki usia kuliah dan awal kedewasaan, siklus alergi saya ternyata belum juga selesai. Eksim di area wajah sudah jarang timbul, namun eksim di bibir masih setia datang dan pergi alias hilang timbul. Polanya selalu sama dan monoton: kulit meradang → pergi ke dokter kulit → diberi obat dan salep steroid → sembuh sementara → lalu beberapa bulan kemudian kambuh lagi. Saat itu, saya masih menganggap siklus ini sebagai hal yang normal. Namun, babak baru yang lebih menantang dimulai ketika saya memasuki kehidupan berumah tangga. Sebagai orang dewasa yang harus mengurus rumah, aktivitas saya tentu tidak lepas dari pekerjaan domestik. Di sinilah pemicu baru itu muncul. Karena kulit saya dasarnya memang sensitif, paparan sabun cuci piring yang keras setiap hari menjadi musuh baru. Eksim yang awalnya hanya di area bibir, kini mulai menyerang punggung telapak tangan. Kulit tangan menjadi sangat kering, pecah-pecah, pe...